Memanfaatkan Sampah Dapur Organik


 
Ketika masih bocah, saya ingat banget dengan kebiasaan bapak saya suka menampung sampah- dapur seperti potongan sayuran, biji cabe, biji pepaya thailand, mahkota buah nanas, potongan batang daun ubi dan sebagainya. Potongan sayur dikumpulkan pada lubang tanah kemudian dicampur dengan srintil (kotoran kambing), untuk stok pupuk. Sedangkan sampah yang berupa biji cabe, mahkota buah nanas, potongan batang ubi ditanam di kebun. Bahkan bapak saya wanti-wanti jika makan durian (untung duriannya hasil kebun sendiri), pongge (isi durian) disuruh ngumpulin untuk disemai di polybag. Ketelatenan bapak merawat tanaman dari sampah dapur membuahkan hasil. Tanamannya segar-segar dan memberikan hasil yang memuaskan karena beliau pupuk dengan pupuk alami buatan sendiri. Jadi, ibu memasak sayur dari hasil kebun. Bisa menghemat uang belanja kan?

Sampai saat ini saya masih terngiang kata bapak ketika habis memupuk durian.
“Aku gur iso ninggali wit duren neng kebun mburi. Sok aku ora manen durian, sing manen anak putuku.” (Aku hanya bisa meninggalkan pohon durian di kebun belakang. Besok aku tidak memanen, yang memanen anak putuku). Ternyata kata bapak saya benar, bapak saya tidak pernah memanen durian itu. Yang memanen anak cucunya karena nanem dari biji hingga berbuah membutuhkan waktu yang lamaaa.

Rupanya kebiasaan bapak suka ngumpulin sampah dapur menurun kepada saya dan kakak saya. Saya merasa “eman” (sayang) jika melihat sampah dapur organik dibuang begitu saja. Sayangnya saya tidak memiliki kebun. Jadi, sampah organiknya saya buang di sisa tanah yang hanya beberapa meter di samping rumah. Untuk sampah yang berupa biji, tidak semua saya tanam, he he bisa memenuhi jagad. Saya pun tergoda untuk menyemai biji jeruk lemon, biji jeruk nipis, biji anggur merah, nanas, dan kurma. Kemudian saya tanam di pot. Khusus pohon kurmanya besok kalau sudah tidak muat di pot, akan saya tanam di kebun milik peninggalan orang tua saja hehe. Ada rasa kepuasan tersendiri jika tanaman tumbuh subur. Karena ditanam dari biji tentu butuh waktu lama nunggu berbuahnya. Tetapi saya merasakan di situlah saya jadi belajar telaten dan sabar. Ketika pagi-pagi melihat tanaman segar wah mata saya juga ikut segar. Saya juga “eman” jika melihat air bekas cucian beras atau daging dibuang percuma mending untuk menyirami tanaman. Pemupukan saya lakukan dengan memberi pupuk kandang dan pupuk cair yang saya buat sendiri. Untuk hama, yang paling menggemaskan adalah ulat yang suka makan daun muda. Seringnya saya harus “mitesi” ulat-ulat itu.

Sekelumit cerita saya memanfaatkan sampah dapur cukup sekian ya...

Comments

Popular posts from this blog

Kremes Ekonomis, Intip Cara Buatnya Yuk!

Lakukan Dua Hal Ini Agar Anak Suka Sayur dan Buah