Bawa Bekal Sendiri ke Sekolah, Mengapa Tidak?
Banyaknya penjual jajanan yang mangkal
di sekolah, sering menjadi daya tarik anak sekolah. Selain harganya yang sangat
murah, jajanan itu secara rasa cocok di lidah. Terbayang kan enaknya cilok,
batagor, siomay, mi gelas yang dijual abang penjual? Belum lagi macam-macam
minuman es yang warnanya begitu menggoda. Padahal belum tentu bahan makanan
yang digunakan memenuhi standar makanan atau minuman sehat. Belum lagi kadang
penjual tidak begitu memperhatikan kebersihannya. Namanya juga anak-anak,
berpikirnya yang penting enak, terjangkau uang saku, dan kenyang sehingga tak
memedulikan sisi kesehatan dan kebersihannya.
Kebiasaan anak jajan memang tidak bisa
terlepas dari sikap permisif orangtuanya. Karena alasan kepraktisan, ada
orangtua yang membiarkan anak-anak bebas untuk jajan. Namun, ada pula yang
selalu “cerewet” memperhatikan apa pun yang dimakan atau diminum demi
kesehatannya. Anak adalah bagian kebahagiaan kedua orangtuanya. Melihat anak
yang selalu sehat menjadi kebahagian tersendiri. Tentu untuk mendapatkan
derajat kesehatan yang baik, orangtua harus berusaha melakukan yang terbaik
untuk menjaga kesehatannya. Salah satunya adalah dengan memperhatikan makanan
dan minuman yang dikonsumsinya. Apalagi anak pada usia sekolah membutuhkan
asupan nutrisi yang baik untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan organ
tubuhnya secara optimal. Membawakan bekal ke sekolah adalah satu cara orangtua
memperhatikan kesehatannya. Apa sih manfaat membawa bekal sendiri ke
sekolah?
1. Dapat mengontrol asupan nutrisi anak.
Dengan membawakan bekal sendiri, orangtua dapat mengontrol asupan nutrisi makanan untuk anak seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Kombinasikan unsur-unsur nutrisi tersebut ke dalam bekal anak. Jangan sampai bermaksud membekali anak ternyata hanya mengandung unsur karbohidrat saja, contoh menggabungkan nasi dengan mi. Sekarang ini, dengan internet kita dimudahkan untuk mencari informasi yang berkaitan resep-resep kekinian yang digemari anak tetapi tetap memperhatikan kandungan nutrisinya.
2. Dapat menghemat biaya.
Ketika sudah kenyang makan dengan bekal bawaan sendiri, tentu anak tidak perlu mengeluarkan uang untuk jajan. Orang tua dapat mengarahkan kepada anak, uang saku bisa ditabung. Makanan sehat belum tentu mahal kan? Nugget buatan sendiri, jauh lebih murah dan sehat dibandingkan nugget yang dibeli. Dalam jangka panjang, menjaga pola makan sehat merupakan tindakan preventif menghindari berbagai penyakit. Dengan demikian akan menekan biaya berobat.
3. Dapat menghemat waktu.
Orangtua memang perlu waktu untuk mempersiapkan bekal anak. Namun demikian, dapat disiasati dengan membuat bekal yang simpel tetapi tetap memperhatikan asupan nutrisinya. Dari sisi anak, tidak perlu lagi keluar kelas dan antri untuk jajan. Waktunya dapat digunakan untuk istirahat.
4. Memperkuat ikatan kasih sayang orangtua dengan anaknya.
Memperhatikan anak lewat makanan tentu akan memberikan kesan yang lebih mendalam kepada anak. Apalagi masakan hasil olahan ibu mempunyai ciri khas rasa tersendiri. Niscaya anak akan selalu teringat masakan ibu. Ditambah ketika teman sekolahnya ikut mencicipinya kemudian memuji masakan yang dibawanya enak, ada kebahagiaan tersendiri bagi si anak. Bangga memiliki ibu yang pandai memasak. Ada lho, anak yang mempunyai motto “Masakah Ibu Harga Mati” saking cintanya dengan masakan ibu. Masakan di luar sana tak bisa mengalahkan rasa masakan ibunya.
5. Menghindari membuang makanan.
Ada tipe anak yang nurut saja apa yang dimasakkan oleh ibunya. Tetapi ada pula anak yang tipenya makan harus sesuai dengan keinginannya. Untuk tipe yang kedua ini, diambil positifnya saja. Kerewelannya jadikan kesempatan untuk membangun komunikasi dengan anak. Tidak ada salahnya, orang tua bisa menanyakan bekal apa yang dia mau. Jangan lupa, tekankan pada anak untuk bertanggung jawab menghabiskan makanan yang dia pesan, sehingga makanan tak terbuang mubazir. Orangtua harus kreatif dalam mengolah makanan sehingga anak suka dengan bekalnya sendiri karena rasanya tak kalah enak dengan yang dijual oleh abang-abang penjual makanan.
1. Dapat mengontrol asupan nutrisi anak.
Dengan membawakan bekal sendiri, orangtua dapat mengontrol asupan nutrisi makanan untuk anak seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Kombinasikan unsur-unsur nutrisi tersebut ke dalam bekal anak. Jangan sampai bermaksud membekali anak ternyata hanya mengandung unsur karbohidrat saja, contoh menggabungkan nasi dengan mi. Sekarang ini, dengan internet kita dimudahkan untuk mencari informasi yang berkaitan resep-resep kekinian yang digemari anak tetapi tetap memperhatikan kandungan nutrisinya.
2. Dapat menghemat biaya.
Ketika sudah kenyang makan dengan bekal bawaan sendiri, tentu anak tidak perlu mengeluarkan uang untuk jajan. Orang tua dapat mengarahkan kepada anak, uang saku bisa ditabung. Makanan sehat belum tentu mahal kan? Nugget buatan sendiri, jauh lebih murah dan sehat dibandingkan nugget yang dibeli. Dalam jangka panjang, menjaga pola makan sehat merupakan tindakan preventif menghindari berbagai penyakit. Dengan demikian akan menekan biaya berobat.
3. Dapat menghemat waktu.
Orangtua memang perlu waktu untuk mempersiapkan bekal anak. Namun demikian, dapat disiasati dengan membuat bekal yang simpel tetapi tetap memperhatikan asupan nutrisinya. Dari sisi anak, tidak perlu lagi keluar kelas dan antri untuk jajan. Waktunya dapat digunakan untuk istirahat.
4. Memperkuat ikatan kasih sayang orangtua dengan anaknya.
Memperhatikan anak lewat makanan tentu akan memberikan kesan yang lebih mendalam kepada anak. Apalagi masakan hasil olahan ibu mempunyai ciri khas rasa tersendiri. Niscaya anak akan selalu teringat masakan ibu. Ditambah ketika teman sekolahnya ikut mencicipinya kemudian memuji masakan yang dibawanya enak, ada kebahagiaan tersendiri bagi si anak. Bangga memiliki ibu yang pandai memasak. Ada lho, anak yang mempunyai motto “Masakah Ibu Harga Mati” saking cintanya dengan masakan ibu. Masakan di luar sana tak bisa mengalahkan rasa masakan ibunya.
5. Menghindari membuang makanan.
Ada tipe anak yang nurut saja apa yang dimasakkan oleh ibunya. Tetapi ada pula anak yang tipenya makan harus sesuai dengan keinginannya. Untuk tipe yang kedua ini, diambil positifnya saja. Kerewelannya jadikan kesempatan untuk membangun komunikasi dengan anak. Tidak ada salahnya, orang tua bisa menanyakan bekal apa yang dia mau. Jangan lupa, tekankan pada anak untuk bertanggung jawab menghabiskan makanan yang dia pesan, sehingga makanan tak terbuang mubazir. Orangtua harus kreatif dalam mengolah makanan sehingga anak suka dengan bekalnya sendiri karena rasanya tak kalah enak dengan yang dijual oleh abang-abang penjual makanan.
Adakah kelemahan membawa bekal sendiri
ke sekolah? Jika anak terbiasa makan nasi dalam keadaan hangat, maka bekal nasi
yang dibawanya menjadi dingin. Anak mungkin harus repot membawa tempat makan,
tetapi masih bisa disiasati dengan membawa tempat makan yang lebih praktis.
Kelemahan membawa bekal sendiri jauh lebih sedikit dibandingkan kelebihannya.
Hal yang terpenting dengan membawakan bekal sendiri anak adalah upaya menjaga
kesehatan anak.

Comments
Post a Comment